Belajar Bootstrap itu TIDAK PERLU!

Share:

Hello Worlds! Sebelum melangkah ke inti dan berdebat hebat, mungkin sebagian ada yang belum mengerti atau sekedar tahu mengenai bootstrap ini. Perlu diketahui, Bootstrap adalah sebuah framework berbasis CSS yang bisa membantu Anda dalam styling website dengan cepat, hanya memberikan class saja style elemen bisa terlihat lebih bagus.

Untuk pembahasan mengenai Framework, Anda bisa Mengenal Framework pada Pengembangan Website terlebih dahulu.

Karena framework ini dibuat bukan Oleh orang Indonesia, maka penamaannya class / id-nya tidak ada yang #konten atau #kepala, adanya ya #container, #header. Oleh karena itulah penggunaan Bootstrap itu tidak bisa langsung dimengerti. Saya sendiri sampai sekarang nggak paham gimana cara pakai Bootstrap ini. Karena menurut saya sih, banyak sisi negatifnya daripada keuntungannya.

Bootstrap itu Menghafal, bukan Belajar

Perlu diperhatikan, sebelum menggunakan bootstrap yang harus Anda lakukan itu bukanlah belajar, tetapi menghapal. Banyak orang-orang yang menulis artikel mengenai bootstrap, judulnya itu "Belajar", padahal bukan. Kunci dari pemakaian bootstrap ini adalah menghafal class atau id yang sudah ada dan mengimplementasikannya pada elemen yang diinginkan.

Nah, kalau Anda ingin semakin mahir ngeweb, selain sering-sering berkunjung ke BNI, Anda juga harus banyak-banyak belajar. Kalau menggunakan bootstrap, kita tidak akan tahu gimana ceritanya kok tombolnya bisa berwarna biru, tulisannya putih, pakai font Arial, kalau mouse-nya diletakkan di tombol background tombolnya kok jadi gelap. Kita tidak akan mengerti itu semua kalau menggunakan bootstrap dan hanya menghafal id / class-nya saja.

Belajar Menghafal Bootstrap hanya membuang waktu

Menghafal itu tentunya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berminggu-minggu kita fokus untuk hafalan selector dari elemen pada bootstrap. Dan hasilnya tidak akan maksimal dengan orang yang belajar CSS secara manual, tidak pakai framework. Waktu yang dipakai untuk menghafal selector bootstrap itu sebenarnya bisa digunakan untuk belajar CSS sendiri.

Ya percuma kan, kalau hasilnya sama-sama bagus, tapi yang pengguna Bootstrap tidak tahu bagaimana kok inputan teksboks-nya kalau diklik bisa memanjang sendiri. Waktu yang dihabiskan untuk menghafal selector kalau dipakai belajar CSS akan lebih bermanfaat, dan Anda akan terlihat lebih lihai di pandangan ahli / pakar ngeweb.

Tapi, Bootstrap menjadi booster proyek

Tujuan utama dari dibuatnya framework itu adalah mempercepat proyek yang sedang dikerjakan. Sebab, kita hanya menyisipkan framework-nya dan menyamakan class / id-nya saja sesuai dengan yang ada di file Bootstrap-nya. Dengan Bootstrap, kita akan terhindar dari pengetikan border-radius, font-family, background-color, width-height, dan kawan-kawannya, dan proyek akan lebih cepat selesai.

Jadi, bolehkah saya memakai Bootstrap?

Untuk masalah boleh atau tidaknya, perlu tidaknya menggunakan Bootstrap ini tergantung pada situasi. Seperti apa kondisi yang sedang Anda alami. Kalau deadline yang diberikan itu mepet, saat inilah Anda boleh memakai Bootstrap, biar kerjaan yang diberikan bisa cepat selesai. Klien tidak kabur, malah kemungkinan besar jika ia punya proyek lagi akan datang kembali untuk menawarkannya kepada Anda.

Di lain situasi, jika Anda sedang nganggur pengen bikin web, atau deadline lebih lama dari yang Anda mampu, jangan memakai Bootstrap. Loh? Kenapa? Kan saya sudah pinter main CSS? Ini sih opini saya, kalau tidak memakai Bootstrap itu rasanya hasilnya lebih keren, daripada pakai. Selain itu, Anda bisa menarik tarif yang sedikit lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan, dengan alasan "semuanya saya buat sendiri". Semoga bermanfaat.....

No comments