4 Alasan Kenapa Harus Pakai Flat Design

Share:

Hello Worlds! Perubahan pasti terjadi, dimana pun dan apa pun itu. Perubahan ini terjadi dikarenakan oleh waktu. Seiring dengan perkembangan, pasti terdapat perubahan; Termasuk juga pada paham desain-mendesain. Jika dulu di sekitar tahun 2010-an, aliran yang dianut ketika mendesain web itu pokoknya banyak elemen-elemen yang wow. Tapi saya nggak tau apa namanya aliran yang seperti ini.

Apabila Anda sudah paham mengenai web di tahun 2010 atau bahkan lebih lama, pasti akan disuguhkan dengan desain yang muluk-muluk. Ada fitur ini itu yang membuat bingung penggunanya. Dulu para front-end programmer itu berlomba-lomba membuat design yang sekiranya dapat memukau pengunjung dengan fiturnya. Memang sih, untuk beberapa saat tren ini booming dan banyak dipakai sebagian besar website yang ada. Tapi nggak bertahan lama.

Sekitar akhir tahun 2013 (kalau nggak salah sih), paham ini mulai ditinggalkan dan milih ke aliran baru, yang lebih fresh, yaitu Aliran Flat. Flat Design merupakan aliran yang mengutamakan ke-simpelan tampilan dengan membuang efek-efek yang tidak perlu seperti glossy, bayangan, dan lainnya. Karena simpel dan memilik perpaduan warna yang ciamik, paham flat design ini pun meledak.

contoh flat design


Gambar di atas merupakan salah satu contoh dari interface yang mengusung flat design. Flat ini merupakan perkembangan dari Swiss design yang ngetren di tahun 1940-1950-an. Konten dari Swiss Design ini minim, sederhana, dan tertata rapi. Awalnya flat design sih sudah diperkenalkan pertama kali di tahun 1980, tapi entah kok malah tahun 2014 baru terkenal.

Hingga saat ini, banyak website-website yang mengusung genre Flat Design, meskipun tidak sedikit yang menggunakan aliran typography. Kalau boleh nebak nih, kayaknya flat design ini masih akan bertahan lama di masa depan. Tapi ngomong-ngomong, kenapa sih kok banyak yang pakai tema Flat Design ini? Selain minimalis, berikut ini adalah alasan kenapa harus memakai flat design.

Mudah Dipahami Pengguna

Aliran design modern mengutamakan User Experience (UX) / pengalaman pengguna dalam mengoperasikan website. Maksudnya, website itu harus mudah dikendalikan untuk digunakan. Tidak... memiliki banyak fitur tapi ribet cara pakainya. Ya, terus untuk apa fiturnya kalau nggak dipakai?

Gambar merupakan elemen pendukung yang dipakai untuk mengilustrasikan sesuatu agar materi yang disampaikan mudah dipahami. Nah, Icon / gambar yang dibuat menganut Flat Design ini akan terlihat lebih simpel dan lebih mudah dipahami oleh siapa saja yang melihatnya. Gambar flat design ini dibuat seminim mungkin tanpa efek yang nggak jelas.

Mudah Dikreasikan

Saya pernah baca di blog orang dan dia mengatakan bahwa kekurangan dari flat design itu sulit untuk dibuat. Saya jadi bingung, lah ini sudah minimalis tapi kok menyebutkan susah dibuat? Harusnya kan jadi lebih mudah.

Jujur, daripada memakai aliran typography saya lebih suka pakai flat design. Desain-desain website saya pun kebanyakan (bahkan hampir semua) menganut paham flat design. Kalau di typography Anda harus mengatur keseimbangan huruf-huruf yang beda agar enak dilihat. Font-nya pun juga ribet, harus pakai eksternal. Kalau flat design sih cuma pakai font Sans-Serif atau yang biasa disebut Arial.

Anda bisa mengubah sendiri model bentuk elemen di website Anda, mengubah warnanya, atau bentuknya juga bisa. Urusan bagus tidaknya hasil itu tergantung di kreatifitas yang membuatnya.

Ringan dan Responsif

Kesederhanaan flat design bertujuan untuk meningkatkan user experience saat membuka. UX itu memengaruhi beberapa aspek, salah satunya ringan ketika dimuat. Flat Design memakan waktu yang singkat untuk dibuka. Hal ini karena konten yang ada itu minim, tapi bukan berarti kurang. Kalau di aliran yang lain lama dibuka itu banyak elemen-elemen yang sebenarnya tidak penting, seperti terlalu banyak gambar dan beberapa efek javascript.

Selain ringan dibuka, aspek UX yang tidak kalah penting yaitu responsif. Disini maksudnya bukan bisa dibuka di berbagai perangkat, tetapi enak dan nyaman buat dilihat. Perpaduan warna yang wow ini banyak orang, khususnya yang awam di dunia desain, akan lebih suka ketimbang desain typography yang kelihatannya kok rumit.

Intinya, Sederhana

Sebenarnya saya bingung mau nulis apa saja sih kelebihan dari flat design ini. Sudah banyak referensi yang saya cari tentang kelebihannya, tapi isinya cuma pengembangan kata dari "sederhana". Jadi, ya kelebihan yang ditawarkan dari penggunaan flat design ini intinya cuma kesederhanaan saja.

Dari sederhana, kelebihan flat design bisa dikembangkan dan dikreasikan lagi menjadi lebih banyak, seperti 2 contoh di atas. 

Seperti yang saya sebutkan di atas, cara membuat dan mengkreasikan flat design ini tidaklah sulit, tergantung pada kreatifitas masing-masing desainer / front-end. Gampangnya, flat design itu background elemennya adalah warna yang seperti yang ada di bawah ini, menggunakan font sans-serif  / arial, dan warna font-nya itu putih (#FFF).

Palet Warna Flat Design :

#3498DB
#2ECC71
#34495E
#E74C3C
#1ABC9C
#2980B9
#27AE60
#2C3E50
#C0392B
#16A085
#9B59B9
#E67E22
#F1C40F
#95A5A6
#ECF0F1
#8E44AD
#D35400
#F39C12
#7F8C8D
#BDC3C7









Mungkin itu saja sih, tentang flat design. Jadi, alasan kenapa kok harus pakai aliran flat design itu ya untuk meningkatkan user experience, yaitu responsif, ringan, dan mudah dipahami siapa saja, termasuk oleh orang awam. Semoga bermanfaat......

2 comments:

  1. pake software apa buat flat designnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. buatnya sih tergantung pada apa yang akan dibuat. Misal kita mau buat website, ya software-nya cuma Teks Editor aja (bisa NotePad++ atau Sublime Text). Sama kalau mau lebih mudah pakai Adobe Photoshop untuk melihat code hex colornya pakai color picker tools

      Delete