Membuat Website pakai Framework itu Perlu??

Share:
Hello World’s. Seringkali kita mendengar sebuah perdebatan yang sering diperdebatkan oleh kaum tukang-bikin-website. Ya, mosi yang didebatkan ialah mengenai penggunaan framework. Banyak yang mengatakan kalau bikin website itu enaknya pakai framework, tapi tidak sedikit yang berargumen kalau build website lebih mudah jika native.


Memang banyak kenikmatan yang akan didapatkan ketika membuat website secara native alias murni. Native disini maksudnya menulis kode sendiri secara manual, tanpa bantuan framework. Salah satu kenikmatan yang didapat ialah tanpa aturan. Aturan yang dimaksud adalah codebase yang pastinya berbeda setiap framework. Jika tanpa framework, kita tidak harus mengetahui codebase. Bahkan kita bisa membuat codebase (aturan) sendiri.

Selain itu, kenikmatan yang lain adalah tanpa belajar. Kalau kita memakai framework, sebelum mahir pasti ada belajarnya dulu. Yang paling sulit itu mengikuti perkembangan code-nya pada setiap ada update-an. Kita harus bisa beradaptasi dengan code-code baru yang ada di versi mutakhir framework yang kita gunakan.

Berbeda dengan native, yang penting tau dasar-dasar hingga tingkat menengah. Jika membuat website secara native kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk memahami codebase framework, juga tidak perlu beradaptasi.

Kedua alasan di atas diduga kuat menjadi alasan para tukang-bikin-website untuk membuild website-nya secara native. Tapi tak-disangka-bau-nangka, ada lebih banyak kenikmatan yang kita dapatkan ketika membangun situs web menggunakan framework. Apa aja sih nikmatnya pakai framework?

  • Butuh Waktu yang Lebih Singkat
Inilah salah satu alasan kenapa perusahaan kok mengharuskan pelamarnya bisa menggunakan framework. Dengan memakai framework, waktu pengetikan code akan menjadi lebih cepat dibanding secara native. Karena di framework sudah tersedia ‘rangkuman’ dari sintaks yang panjang.

Memang pada awalnya kita memerlukan waktu yang cukup untuk mempelajari bagaimana sintaksnya, codebase-nya, prompt yang digunakan, dan sebagainya. Itu cukup melelahkan bagi orang yang tidak terbiasa beradaptasi dan mempelajari hal baru. Itulah mengapa sebelum jadi programmer kita dihadapkan dengan syarat ‘bisa beradaptasi’ dan ‘suka mempelajari hal baru’.

Tetapi kalau kita sudah mahir menggunakan framework, membuat projek besar tentu bukan menjadi soal sulit. Tergantung deadline-nya aja. Jika kedua jenis tukang-bikin-web (yang pakai framework dan yang tidak) ini di ‘trek’, diadu kecepatan, yang finish duluan pasti yang memakai framework. Lha wong memang ini tujuan dibuatnya framework kok.
  • Aman
Kalau membuat website secara native, ada satu rintangan yang cukup melelahkan, yakni membuat ‘satpam’ website. Membuat pengaman website agar tidak mudah direats sangatlah sulit. Saya sendiri tidak mampu untuk membuat sekuritas ini. Sudah pakai bermacam-macam trik dan cara, masih saja website saya kena deface. Ampun deh.

Nah, framework itu sudah dilengkapi dengan sistem keamanan yang mutakhir. Dengan begitu, kita ngga usah capek-capek bikin ‘satpam’ yang aman dari ‘maling’ web. Celahnya sangat kecil. Kalaupun ada celah yang dapat dibobol, kita tak perlu menutupnya sendiri. Beberapa saat setelah diketahui ada celah pasti ada update-an framework untuk menutup celah tersebut.

Tapi dalam hal ini memiliki kekurangan. Terkadang dengan mengupdate versi framework, codebase pun ikut berubah. Sehingga mengharuskan kita untuk melakukan perubahan code agar program bisa berjalan dengan benar.
  • Banyak Teman
Ini nih yang saya rasakan ketika memakai framework. Kita bisa mendapatkan banyak teman dengan latar belakang yang sama, yaitu pengguna framework, bahkan bisa lebih spesifik, sesama-pengguna-laravel misalnya.

Nikmat ini tentu tidak akan kita dapatkan jika tidak memakai framework. Rasanya seperti berjuang sendirian tanpa ada support dari orang lain. Kita akan kesepian kalau bekerja tanpa framework. Iya. Kalau misalkan ada kesulitan, tanyanya ya paling ke Google, bukan ke teman. Temannya ya berarti penulis blog itu yang ada di Google.

Tapi kalau pengen banyak teman, yang perlu diingat adalah framework yang akan dipakai. Jika kita salah pilih memakai framework yang ‘kesepian’ maka kita juga ikut kesepian. Bahkan jika kita berkumpul, kopi darat bersama komunitas programmer, rasanya itu diskriminasi. Mereka berkumpul bincang-bincang mengenai framework-nya masing-masing, kita ngga ada temennya yang nyambung diajak berbincang.

Nah, dari masing-masing kenikmatan, apakah masih ada yang memperdebatkan mosi “build website pakai framework atau tanpanya”?? Saya sendiri tidak bisa menarik kesimpulan apakah harus memakai framework atau tidak. Soalnya ini tergantung dari pribadi masing-masing, apakah bisa mengikuti perkembangan dan mau belajar?

Kalau iya berarti cocok memakai framework. Kalau tidak ya jangan pakai framework, native saja. Kalau cocok, tentu kita bisa membuat sebuah website dengan waktu yang singkat dengan atau tanpa memakai framework. Salam Koding!

3 comments:

  1. Sekarang udah jamannya framework.

    ReplyDelete
  2. Kalo buat website yang kecil kecilan mah pake framework malah ribet
    Enaknya kalo pake framework kalo banyak crud & penggunaan fungsi

    ReplyDelete